Sejumlah 61 Warga Garut Meninggal Akibat Covid-19

Ada dua warga Garut yang dinyatakan meninggal dunia karena virus Corona pada Rabu (9/12) sehingga total ada 61 orang meninggal dunia. Warga yang meninggal dunia hari ini berjenis kelamin perempuan berasal dari daerah Cilawu dan Leles. Masing-masing KC (konfirmasi kasus) 2335 dan KC-2347.

Akibat adanya pasien yang meninggal dunia dan jumlah kasus terkonfirmasi positif Covid-19 yang terus bertambah, Pemprov Jabar menetapkan Kabupaten Garut sebagai zona merah penyebaran virus Covid-19. Hingga Rabu (9/12) ada 2.397 kasus positif Covid-19, dengan rincian 2 kasus menjalani isolasi mandiri, 971 kasus di ruang isolasi RS, 1.363 sembuh, dan 61 meninggal dunia.

Kemdikbud Gelar Anugerah Kebudayaan Indonesia

Sebagai upaya menumbuhkan kebanggaan generasi muda terhadap karya budaya sekaligus mengeliminasi dampak negatif globalisasi Kemdikbud RI melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan menggelar Anugerah Kebudayaan Indonesia di Jakarta, Sabtu (5/12).

Anugerah ini merupakan apresiasi Kemdikbud bagi perorangan, lembaga, maupun komunitas yang berperan aktif dan berdampak dalam pelestarian Kebudayaan Indonesia. Ada 6 kategori penghargaan yang diberikan kepada 33 orang, yaitu: Pelestari, Pencipta, Pelopor dan Pembaru, Maestro Seni Tradisi, Komunitas, Anak dan Remaja, serta Pemerintah Daerah.

Namun, karena ada pandemi Covid-19, pemberian Anugerah Kebudayaan Indonesa tahun ini dikemas dalam format berbeda. Kemdikbud melaksanakan seremonial penyerahan Anugerah Kebudayaan di wilayah domisili peserta. Untuk yang berdomisili di DKI Jakarta, penghargaan diberikan kepada Erwin Gutama (Komponis/Konduktor) dan Hartati (Koreografer). Daftar penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia 2020 selengkapnya adalah sebagai berikut.

A. Kategori Pelestari
1. Muhammad Suriani
Permainan Tradisional
Banjarmasin, Kalimantan Selatan

2. Mursi
Tradisi Lisan Hahiwang
Lampung

3. Maryam G Mailili
Pengampu Adat Buol
Buol, Sulawesi Tengah

4. Zulpadli
Tradisi Pepaosan
Lombok, Nusa Tenggara Barat

5. PT. Kereta Api Indonesia Pusat
Bangunan Bersejarah
Indonesia

6. Ibnu Hadjar Emha
Adat Melayu Bangka
Pangkal Pinang, Bangka Belitung

7. Christin Rinto Taroreh
Kawasaran
Minahasa, Sulawesi Utara

8. Sumisih Yuningsih
Budaya Jawa
Yogyakarta

B. Kategori Pencipta, Peiopor, dan Pembaharu
1. Hans Rianto Sukandi (Hans Jaladara)
Komikus
Bogor, Jawa Barat

2. I Wayang Gede Yudana
Komposer
Denpasar, Bali

3. Umbu Landu Paranggi
Penyair
Denpasar, Bali

4. Azwar AN
Teater
DI Yogyakarta

5. Hartati
Koreografer
DKI Jakarta

6. Tisna Sanjaya
Pelukis
Bandung

7. Erwin Gutawa
Komponis/Konduktor
DKI Jakarta


C. Kategori Maestro Seni Tradisi
1. Yais Hi Yakub
Imam Tradisi Sopik
Halmahera Selatan, Maluku Utara

2. Maknuyah
Penari Gandai
Muko muko, Bengkulu

3. Simon Bana
Pemusik dan Pembuat Feku
Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur

4. Sugiyo Pranoto
Sutradara Janger Banyuwangi
Banyuwangi, Jawa Timur

5. Kusni Sulang
Pemelihara Adat Dayak
Palangkaraya, Kalimantan Tengah

6. Sumiyati (Mbah Pringgo)
Pemusik Gender Wayang Kulit
Surakarta, Jawa Tengah

D. Kategori Anak dan Remaja
1. Aliya Diza Rihadatulaisy
Pembatik
Malang, Jawa Timur

2. Amarylisse Magnifizia Cesare Ganz
Penggerak Literasi
Kota Magelang, Jawa Tengah

3. Ferdi Irawan
Seni Madihin
Banjarmasih, Kalimantan Selatan

4. Rahardian Reno Wadana
Dalang Wayang Sasak Lombok
Lombok, Nusa Tenggara Barat

5. Satria Qolbun Salim
Dalang Wayang Kulit Jawa
Sukoharjo, Jawa Tengah

E. Kategori Komunitas
1. Rumah Itam
Batam, Kepulauan Riau

2. Paguyuban Lahan Parahyangan (Palapah)
Sukabumi, Jawa Barat

3. Pedati
Palu, Sulawesi Teng

4. Samsara Living
Karangasem, Bali

F. Kategori Pemerintah Daerah
1. Kabupaten Purwakarta
2. Kabupaten Garut
3. Kota Yogyakarta

Sejumlah Kecamatan Aceh Utara Terendam Banjir

Akibat hujan yang mengguyur Kabupaten Aceh Utara sejak tiga hari terakhir menyebabkan sejumlah 11 kecamatan terendam banjir. Ke-11 kecamatan tersebut adalah: Paya Bakong, Simpang Keramat, Langkahan, Matangkuli, Pirak Timu, Baktiya, Tanah Luas, Baktiya Barat, Meurah Mulia, Samudera, Sawang, dan Simpang Keramat.

Khusus untuk banjir yang melanda Kecamatan Matangkuli, ada salah satu desanya yaitu Lawang yang ketinggian airnya mencapai sekitar 3 meter. Warga terpaksa mengungsi ke balai desa. Sementara desa lainnya, yaitu Tanjung Haji Muda, warganya terutama anak-anak dan lanjut usia harus dievakuasi menggunakan sampai ke gedung pertemuan yang lokasinya lebih tinggi.

Nelayan Cirebon Tidak Melaut Akibat Gelombang Tinggi

Akibat tingginya gelombang air laut, nelayan Kelurahan Panjunan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon tidak melaut. Mereka terpaksa menambatkan puluhan perahu di pantai sejak Minggu (6/12).

Gelombang setinggi hingga tiga meter disertai angin kencang membuat aktivitas di laut menjadi terhenti selama beberapa hari. Para nelayan lebih memilih memperbaiki perahu atau jaring mereka yang rusak.

Hanya ada beberapa nelayan yang masih tetap melaut. Itu pun hanya mencari udang dan kerang di tepi pantai.

Kerapan Sapi

Kerapan sapi sangat erat kaitannya dengan seprang penyebar agama Islam di daerah Madura, yaitu Syeh Ahmad Baidawi. Sambil menyebarkan agama, Beliau mengajarkan cara bercocok tanam (membalik tanah) dengan menggunakan sepasang bambu (Nanggala atau Salaga) yang ditarik oleh dua ekor sapi. Oleh karena itu, Beliau diberi gelar “Pangeran Katandur”. Kerapan sapi pada awalnya merupakan kegiatan untuk memperoleh sapi yang kuat. Lama-kelamaan kegiatan tersebut berkembang menjadi adu balap-sapi (kerapan sapi) sebagaimana yang ada di kalangan masyarakat Madura dewasa ini.

Kerapan sapi adalah salah satu jenis permainan tradisional masyarakat Madura. Ada beberapa persyaratan yang berkenaan dengan kondisi sapi, yaitu: (1) Sapi harus mempunyai jenis warna Madura (Madura asli); (2) Sapi harus sehat dan kuat; (3) Tinggi sapi harus mencapai 120 sentimeter; dan (4) Giginya sudah dicabut. Untuk membuat sapi sehat dan kuat diperlukan makanan yang “bergizi”, seperti: batang pohon jagung, kedelai, kacang, dan rumput yang baik. Selain itu, sapi-kerap juga diberi ramuan tradisional seperti: jahe, lada, cabe, madu, bir, dan puluhan bahkan ratusan telur.

Tiga atau empat hari sebelum pelaksanaan kerapan sapi tiba, pemilik sapi dan keluarganya mendatangi arena pertandingan dan mencari tempat yang dianggap baik untuk memarkir sapi-aduannya. Sebab, dalam kerapan sapi yang bertanding bukan semata-mata sapi, tetapi antarpemiliknya melalui kekuatan gaib. Siapa yang unggul kekuatan gaibnya dalam “melumpuhkan” sapi lawan, dialah yang akan memenangkan kerapan. Oleh karena itu, tidak jarang pemilik sapi berpuasa untuk mengalahkan tenaga gaib pemilik sapi lainnya.

Pelaksanaan Kerapan Sapi dibagi dalam empat babak. Babak pertama, seluruh pasangan sapi diadu keceptannya. Dalam babak ini baik sapi yang menang maupun kalah dapat bertanding lagi. Babak kedua, pasangan sapi pada kelompok menang akan dipertandingkan kembali; demikian juga pasangan sapi pada kelompok kalah. Pada babak ini baik semua pasangan sapi pada kelompok menang maupun kalah tidak boleh dipertandingkan lagi. Babak ketiga (semi final) adalah babak penentuan tiga pasang sapi pemenang dari kelompok pemenang dan tiga pasang sapi pemenang dari kelompok yang kalah. Babak kempat (final) adalah babak penentuan juara I,II, dan III, baik dari kelompok pemenang maupun kalah.

Kejuaraan Kerapan Sapi dilakukan secara bertingkat. Dimulai dari tingkat Pembantu Bupati, Kabupaten, dan terakhir tingkat karesidenan. Tingkat karesidenan (Final Besar) biasanya diadakan di Kota Pamekasan (Koordinator Kerja Wilayah VII Madura). Pada tingkat ini diikuti oleh 4 kabupaten yang ada di Madura (Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep). Setiap kabupaten mengirim 6 pasang sapi pemenang. Namun, sejak tahun 1998 Final Besar tidak lagi dipusatkan di Kota Pamekasan tetapi bergiliran. Kini Kerapan Sapi telah masuk dalam kalender nasional (acara tahunan) dengan pelaksanaan bulan Agustus—Oktober pada setiap tahunnya.

Sapi dalam kehidupan masyarakat Madura memiliki arti tersendiri. Ia tidak hanya sebagai alat bantu dalam bercocok tanah (membajak), tetapi juga alat transportasi, dan permainan tradisional. Oleh karena itu, berdasarkan penggunaannya ada beberapa istilah, antara lain: antara lain: sape-kerap (sapi yang digunakan untuk kerapan), sape-pajikaran (sapi yang digunakan untuk menarik pedati), dan pangorbi (sapi betina yang berperan sebagai induk). Pangorbi yang kualitasnya bagus dijadikan sebagai sape-pajhangan (lotrengan). Kualitas sapi yang bagus dapat dilihat dari bentuk tubuh, warna kulit, dan kesehatannya. Sapi ini dirawat dan dibuat sedemikian rupa (diberi aksesoris) sehingga menarik perhatian orang. Perawatan yang khas inilah yang kemudian membuahkan sebuah kegiatan (kontes) yang disebut sape-sono. Di Sumenep pemeliharaan sape-sono masih dapat ditemukan di daerah: Gading, Batu Putih, Bluto, dan Batang-Batang.

Kontes sape-sono biasanya dilakukan sebelum kerapan sapi (mengawali pelaksanaan kerapan sapi). Ketika kontes itu berlangsung, dua pasang sapi dilepas dari garis start menuju labhang sakheteng, yaitu semacam gapura yang diberi benda-benda yang dapat menakutkan sapi, seperti: cermin besar, orang-orangan, dan topeng. Menang dan kalahnya pasangan sapi yang mengikuti kontes bergantung pada penilaian juri berdasarkan: (1) Keanggunan sapi ketika berjalan dengan pasangannya (arah pandang ke depan dan lurus); (2) Keselarasan ketika berjalan (seirama dengan musik pengiring); dan (3) Ketepatan ketika berhenti di bawah gapura.

Wisata Pesona Taman Puspa Hadir di Tanjungsari

Ada sebuah wanawisata baru di Sumedang, tepatnya di Dusun Sukaratu, Desa Cijambu, Kacamatan Tanjungsari. Namanya adalah Pesona Taman Puspa dan diresmikan langsung oleh Bupati Sumedang H Dony Ahmad Munis pada Kamis 3 Desember 2020. Peresmian wanawisata ini merupakan salah satu pemerintah daerah demi mewujudkan Sumedang sebagai kota wisata.

Pesona Taman Puspa berdiri di atas lahan Perhutani seluas sekitar 6 hektar. Di dalamnya terdapat wahana permainan anak berupa jembatan gantung, kereta mini, dan lain sebagainya. Selain itu, juga ada berbagai tetumbuhan yang sengaja ditanam sebagai sarana edukasi bagi wisatawan anak yang datang berkunjung.

Diharapkan dengan adanya wanawisata Pesona Taman Puspa dapat memberikan andil bagi perekonomian masyarakat setempat. Dalam hal ini, dapat membuka lapangan kerja bagi masyarakat sekitar sekaligus menambah pendapatan daerah Kabupaten Sumedang.

Polsek Sumedang Utara Lakukan Penyemprotan Disinfektan

Sebagai wujud kepedulian terhadap masyarakat, Polsek Sumedang Utara melakukan penyemprotan disinfektan di sejumlah wilayahnya guna mengantisipasi penyebaran Virus Corona.

Bekerja sama dengan Kecamatan Sumedang Utara dan beberapa organisasi lain, Polsek Sumedang Utara melakukan penyemprotan disinfektan pada Selasa (1/12) di lingkungan Ketib Kelurahan Kotakaler Sumedang Utara. Adapun tujuannya, selain mengantisipasi penyebaran Covid-19 sekaligus mempererat tali silaturahim dengan masyarakat sekitar.

Archive