Asal Mula Kata Sumenep

Salah satu tradisi lisan yang ada di kalangan masyarakat Sumenep adalah asal mula kata “Sumenep”. Kata tersebut berasal dari kata “Songennep”. Songennep itu sendiri sebenarnya istilah yang terdiri atas dua kata, yaitu “Song” dan “Ennep”. Song berarti: relung, geronggang, sejuk, rindang, payung, cekungan. Sedangkan, ennep berarti mengendap, tenang. Jadi, songennep berati lembah atau cekungan yang tenang.

Versi yang lain menyebutkan bahwa songennep berasal dari kata moso ngenap. Moso berarti “musuh”, sedangkan ngenep berarti “menginap”. Jadi, mosongenep berarti “musuh yang menginap”. Pendapat ini dikaitkan dengan Ke Lesap yang peenah menyerang keraton Sumenep dan pernah tinggal selama sebulan di sana. Versi yang lain lagi menyebutkan bahwa songennep berasal dari kata “ingsun ngenep” yang artinya “Saya bermalam”. Pendapat ini dikaitkan dengan Raden Wijaya yang pernah mengungsi ke Madura ketika dikejar-kejar oleh Jayakatwang.

Sampai saat ini masyarakat yang tinggal di sekitar pusat kabupaten (kota Sumenep) umumnya menggunakan kata “Sumenep” untuk menyebut daerahnya. Sementara, masyarakat yang tinggal di pedasaan umumnya menggunakan kata “Songennep”.

Buaya Sepanjang 2,5 Meter Ditangkap Di Tanjungpinang

Buaya sepanjang sekitar 2,5 meter yang sering mencuri lele dan ikan patin di keramba warga Kampung Bangun Sari, Kecamatan Tanjungpinang Timur, Kota Tanjungpinang, Kepri, akhirnya ditangkap dengan cara dijerat menggunakan tali, Kamis (17/12).

Buaya itu berasal dari anak Sungai Toca yang letaknya tidak jauh dari pemukiman warga Kampung Bangun Sari. Sebelum ditangkap dia diduga kerap memakan ikan lele dan patin budidaya warga yang mengakibatkan kerugian hingga puluhan rupiah.

Warga berharap agar pemerintah daerah melalui Badan Penanggulangan Bencara Daerah (BPBD) mengembalikan buaya tersebut ke habitat aslinya. Selain itu, Pemkota Tanjungpinang juga diminta membantu mengurangi kerugian dengan memagar anak Sungai Toca agar buaya tidak masuk ke wilayah mereka.

Sampoerna Gelar Bazzar Online

Melalui program berkelanjutan Sampoerna untuk Indonesia (SUI), bekerja sama dengan Tempo, Sampurna menggelar Bazzar Online bagu sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) pada 15 dan 16 Desember 2020.

Acara yang merupakan rangkaian dalam Festival SampoernaUntukUMKM ini akan diadakan bersama webinar tanggal 15 dan 16 Desember 2020. Bazaar online sendiri akan memamerkan berbagai produk UMKM yang berada pada e-catalog situs Sampoerna Entrepreneurship Training Center yang dikategorikan dalam makanan dan minuman, furnitur dan dekorasi, mode dan aksesoris, dan lain sebagainya.

Petugas Gabungan Akan Patroli di Bantul

Sejumlah 140 petugas gabungan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol-PP), Kepolisian, dan Kodim akan melaksanakan patroli penegakan protokol kesehatan dalam rangka antisipasi kerumunan saat Natal, tahun baru, dan Pemilihan Lurah Desa (Pilurdes) di Bantul.

Patroli Natal akan diadakan pada tanggal 24-25 Desember, sementara Pilurdes tanggal 27 Desember, dan perayaan tahun baru selama 4 hari dimulai dari tanggal 26, 28, 29, dan 31 Desember. Bagi yang kedapatan melanggar akan didata. Namun, jika tetap membandel akan dilakukan penindakan.

Adapun wilayah patrolinya dipusatkan di tempat-tempat berkumpul, seperti lapangan Paseban, pasar seni dan wisata Gabusan, dan di JJLS (Jalur Jalan Lingkat Selatan). Selain itu, pihak Kepolisian juga akan menempati sejumlah pos di utara TPR Parangtritis dan simpang empat Druwo serta Piyungan guna mengantisipasi adanya kerumunan.

Vaksin Pfizer-Biontech disetujui Pemerintah Arab Saudi

Riyadh akan memulai proses impor vaksin Pfizer-Biontech setelah otoritas makanan dan obat Arab Saudi menyetujui pendaftaran dan penggunaan vaksin Covid-19 itu pada 24 November.

Sebelumnya, pihak Otoritas Makanan dan Obat Arab Saudi telah mengevaluasi keamanan dan kemanjuran vaksin dan mengadakan beberapa pertemuan untuk mempelajari data yang diberikan perusahaan pembuat Pfizer.

Selain Arab Saudi, beberapa negara lain juga telah menyetujui penggunaan vaksin Covid-19 yang dikembangkan oleh Pfizer-Biontech, yaitu Inggris, Israel, Kanada, dan Bahrain. Vaksin ini dinilai ampuh karena memiliki keefektifan 95 persen.

Sejumlah Rumah Terendam Banjir di Kudus

Akibat curah hujan tinggi, sejumlah 167 rumah terendam banjir di Desa Jati Wetan, Kabupaten Kudus, pada Jumat (11/12) dengan ketinggian bervariasi.

Namun, ketinggian genangan masih dianggap aman oleh warga sehingga belum ada yang berkeinginan mengungsi. Padahal aparat Desa Jati Wetan telah menyapkan tempat pengungsian di aula pemerintah desa, termasuk juga kebutuhan logistik.

Selama air masih menggenang, pihak pemerintah setempat juga mengoperasikan dua nuit mesin penyedot air berkapasitas sekitar 200 meter kubik per detik guna mempercepat surutnya genangan dengan membuangnya ke Sungai Wilan.

Adat Mapar di Madura

Mapar adalah suatu kegiatan merapikan (meratakan gigi). Kegiatan ini disamping bertujuan agar gigi tampak rapi dan menarik, tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah untuk membuang sangkal (kesialan). Oleh karena itu, seorang gadis yang akan memasuki jenjang perkawinan giginya di-mapar (diratakan). Mengingat bahwa kegiatan mapar ada unsur magisnya, maka upacaranya bersifat sakral. Upacara ini masih tetap dilakukan oleh masyarakat Desa Panagan, Kecamatan, Kabupaten Sumenep (kurang lebih 10 kilometer ke arah tenggara dari kota Sumenep).

Upacara mapar dilakukan di kediaman pengantin perempuan. Untuk itu, pihak pengantin perempuan mempersiapkan segala sesuatu yang berkenaan dengan upacara tersebut, terutama ahli mapar dan tiga orang yang bertugas sebagai pembaca kidung. Kidung diambilkan dari kitab kuno. Kitab tersebut berhuruf Jawa dan berisi hikayat tentang Nabi Yusuf, yaitu seorang nabi yang terkenal ketampanannya.

Proses mapar itu sendiri disertai (diiringi) dengan kidung. Maksudnya adalah agar calon mempelai yang dipapar terhibur sehingga mengurangi rasa sakit. Beberapa orang gadis yang mengikuti upacara tersebut membakar dhupa, kemudian mengitari mempelai yang sedang dipapar. Setelah perataan gigi selesai, maka acara dilanjutkan dengan membersihkan (mencukur) rambut-rambut halus yang di sekitar dahi dan tengkut mempelai. Kegiatan ini oleh masyarakat setempat disebut paras. Makna yang terkendung adalah pembuangan sial.

Upacara mapar diakhiri dengan kegiatan kirab menuju tapak dangdang.(simpang empat) yang ada di desa yang bersangkutan, atau menuju pantai dan membuang sisa-sisa potongan gigi dan rambut beserta sesaji di sana. Kirab itu sendiri diiringi/dimeriahkan dengan kesenian tradisional setempat, yaitu sronen.

Archive