Rebana di Kabupaten Sumenep

Rebana adalah salah satu jenis kesenian yang ada di kalangan masyarakat Sumenep. Kesenian ini bernafaskan Islam. Ada beberapa nama yang berkenaan dengan kesenian ini, yaitu hadrah dan kratangan. Selaras dengan nafasnya yang Islami, maka kesenian ini berkembang bersamaan atau setelah agama Islam masuk ke tanah Madura. Kesenian ini pada awalnya ditampilkan untuk mengiri pembacaan salawat nabi (Nabi Muhammad SAW). Adapun kitab yang dibaca adalah Barzanji.

Sesuai dengan namanya, kesenian ini menggunakan alat musik yang disebut rebana (orang Pamekasan menyebutnya “terbang”). Dalam setiap penampilan jumlahnya 6—10 buah terbang. Sedangkan, vokalnya 8—12 orang. Mereka, baik pemusik maupun para vokalis, semuanya perempuan. Kesenian ini sering ditampilkan dalam upacara-upacara di lingkaran hidup individu, seperti: memperingati (selamatan) seorang balita yang genap berumur 40 hari dan perkawinan.

Seollal, Imlek Ala Korea Selatan

Imlek adalah perayaan tahun baru Cina yang rutin diadakan oleh orang Tionghoa di manapun mereka berada. Tahun baru yang didasarkan pada penanggalan bulan (lunar) ini di Korea Selatan disebut dengan istilah Seollal.

Penduduk korea merayakan Seollal selama tiga hari: sebelum, hari H, dan sesudahnya. Masa sebelum Seollal biasanya akan digunakan untuk mencari hadiah serta membuat makanan. Sebab, banyak restoran dan pusat perbelanjaan yang tidak beroperasi.

Hari perayaan Seollal dimulai dengan berkumpulnya anggota keluarga untuk mengadakan upacara penghormatan pada leluhur. Kemudian, acara dilanjutkan makan bersama dengan menu utama berupa tteokguk yaitu sup berbahan nasi, daging sapi, telur, sayuran dan lain sebagainya. Makanan ini merupakan simbol bagi pikiran dan tubuh yang bersih di awal tahun.

Usai makan bersama, acara dilanjutkan dengan pemberian hormat pada generasi tua di dalam keluarga dengan cara sebae atau membungkukkan tubuh. Terakhir, para orang tua akan memberikan berkah dan harapan mereka lalu menghadiahi sebaetdon pada anak-anak sebagai uang tahun baru.

Jedor

Jedor adalah salah musik tradisonal orang Madura (Pamekasan). Seni-musik ini sering disebut juga sebagai tanjedor karena dalam musik tersebut ada sebuah alat.yang menyerupai bedug mesjid yang berukuran kecil (garis tengahnya kurang lebih 60 centimeter). Seperti halnya rebana, kesenian ini juga bernafaskan Islam (sering digunakan untuk mengiringi pembacaan berzanji dalam rangka salawat Nabi Muhammad SAW. Namun demikian, tidak sama persis dengan rebana karena dalam jedor selalu diselingi dengan pantun-pantun yang berisi nasehat dan hiburan. Pantun-pantum tersebut bukan berbahasa Arab, tetapi berbahasa setempat (Madura). Sebagaimana kesenian rebana, kesenian ini juga ditampilkan dalam rangka memeriahkan upacara di lingkaran hidup individu, khususnya pesta perkawinan.

Gerbang Lobang Mesem

Gerbang Lobang Mesem adalah bagian dari kompleks keraton Sumenep yang fungsinya sebagai pintu masuk utama keraton yang bersangkutan. Gerbang yang bangunannya sangat kokoh ini bentuk gawang pintunya menyerupai lubang (bagian atasnya melingkar).Gerbang ini dilengkapi dengan banguna bertingat tiga (semakin ke atas semakin kecil). Beberapa ciri-ciri yang ada pada gerbang tersebut menunjukkan bahwa gerbang tersebut ada unsur arsitektur Jawa (terlihat dari atapnya yang limas), Timur Tengah (bagian atas pintunya yang melengkung), dan Eropah (terlihat dari motif-motif ragam hiasnya). Gerbang tersebut, disamping merupakan pintu masuk utama, juga sebagai sifat orang Madura yang ramah. Hal itu disimbolan dari kata “mesem” (tersenyum ramah).

Hari Jadi Kabupaten Sumenep

Hari jadi Kabupaten Sumenep sangat erat kaitannya dengan Arya Wiraraja karena ia adalah adipati Sumenep yang pertama. Artinya, sebelumnya tidak ada penguasa lokal yang bergelar adipati. Ketika itu Sumenep berada di bawah kekuasaan Singosari. Raja Singosari (Raja Kertanegara) inilah yang kemudian melantik Arya Wiraraja sebagai Adipati Sumenep. Oleh karena itu, sumber-sumber (prasasti) yang berhubungan dengan raja tersebut dijadikan rujukan bagi penetapan Hari Jadi Kabupaten Sumenep. Prasasti-prasasti tersbur adalah: (1) Mua Manurung dari Raja Wisnuwardhana yang bertahun 1255 M; (2) Kranggan (Sengguruh) dari Raja Kertanegara yang bertahun 1356 M; (3) Pakiswetan dari Raja Kertanegara yang bertahun 1267 M; (4) Sarwadharma dari Raja Kertanegara yang bertahun 1269 M. Sedangkan, manuskrip yang digunakan untuk menelusuri lebih lanjut tentang Arya Wiraraja adalah: (1) Nagarakertagama karya Prapanca pada tahun 1365 M; (2) Pararaton yang ditulis ulang tahun 1631 M; (3) Kidung Harsa Wijaya, (4) Kidung Ranggalawe, (5) Kidung Pamancangah, (6) Kidung Panji Wijayakramah, dan (7) Kidung Sorandaka.


Dari prasasti-prasasti tersebut Prasasti Sarwadharma yang bertahun 1269 (lengkapnya 31 Oktober 1269) jelas menyebutkan bahwa saat itu Raja Kertanegara telah menjadi Raja Singosari yang berdaulat penuh dan berhak mengangkat seorang adipati. Prasasti ini berisi penetapan suatu daerah menjadi daerah suatantra (berhak mengurus dirinya sendiri) dan lepas dari pengawasan wilayah thani bala, sehingga daerah tersebut tidak lagi diwajibkan membayar berbagai macam pajak. Berdasarkan fakta tersebut maka pelantikan Arya Wiraraja ditetapkan tanggal 31 Oktober 1269 M. Peristiwa itu menjadi rujukan yang kuat untuk menetapkan hari jadi Kabupaten Sumenep.

Fujitsu Stylistic Q738

Specifications
Fujitsu Stylistic Q738
Processor Intel Core i5-8350U 4 x 1.7 - 3.6 GHz, Kaby Lake Refresh
Graphics adapter Intel UHD Graphics 620
Memory 8192 MB, DDR3, dual-channel
Display 13.30 inch 16:9, 1920 x 1080 pixel 166 PPI, capacitive, native pen support, Sharp SHP149B, IPS, glossy: yes
Mainboard Intel Kaby Lake-U + iHDCP 2.2 Premium PCH
Storage Samsung SSD PM871b MZNLN256HAJQ, 256 GB, 180 GB free
Soundcard Intel Kaby Lake-U/Y PCH - High Definition Audio
Connections 1 USB 2.0, 1 USB 3.0 / 3.1 Gen1, 1 HDMI, 1 Kensington Lock, 1 Docking Station Port, Audio Connections: audio combo, Card Reader: microSD, 1 SmartCard, 1 Fingerprint Reader
Networking Realtek USB GBE Familiy Controller (10/100/1000/2500/5000MBit/s), Intel 8265 Tri-Band WiFi (Oak Peak) Network Adapter (a/b/g/n = Wi-Fi 4/ac = Wi-Fi 5), Bluetooth 4.2, LTE Sierra Wireless EM7455 (Cat. 6), LTE
Size height x width x depth (in mm): 18 x 315 x 250 ( = 0.71 x 12.4 x 9.84 in)
Battery Lithium-Ion, Battery runtime (according to manufacturer): 10 h
Operating System Microsoft Windows 10 Pro 64 Bit
Camera Webcam: 2.1 MP, 1920 x 1080
Primary Camera: 5 MPix
Additional features Speakers: stereo, Keyboard: chiclet, Keyboard Light: yes, 24 Months Warranty
Weight 1.4 kg ( = 49.38 oz / 3.09 pounds), Power Supply: 280 g ( = 9.88 oz / 0.62 pounds)

Asta K. Pekke

K. Pekke adalah putera K. Hatib Bangil yang berasal dari Dusun Parongpong, Desa Kecer, Kecamatan Dasuk yang masih keturunan Mandaraga dan keturunan Pangeran Katandur yang dikenal sebagai cucu Sunan Kudus. Selain itu, K. Pekke adalah paman dan sekaligus guru Bendara Moh. Saud. Moh Saud itu sendiri adalah raja Sumenep yang memerintah dari tahun 1750—1762. Ia berasal dari Desa Lembung Barat, Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep.

K.Pekke dikenal sebagai ulama besar dalam ilmu fiqih (ahli hukum agama Islam). Ia adalah penerus pondok pesantren yang tertua di Kabupaten Sumenep. Selain itu, ia juga dikenal sebagai budayawan tertua setelah Wali Songo yang mengajarkan gending di Yogyakarta. Ketika wafat, ia dimakamkan di Desa Lembung Barat, Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep. Pemakamannya disebut “Asta K. Pekke”. Asta tersebut dari ibukota Sumenep jaraknya kurang lebih 11 kilometer ke arah barat.

Archive