Showing posts with label Culture And Society. Show all posts
Showing posts with label Culture And Society. Show all posts

Tradisi Mengerucutkan Kepala

Memodifikasi tubuh oleh sebagian kebudayaan di dunia mempunyai makna-makna tertentu. Ia tidak hanya berfungsi sebagai estetika semata, melainkan juga sebagai simbol status. Salah satu bentuk modifikasi tubuh yang cukup ekstrim adalah mengerucutkan atau melonjongkan kepala.

Praktik yang telah menjadi sebuah tradisi ini ada di beberapa suku bangsa, seperti Chinookan di Amerika Utara, Hun di Asia, Mangbetu di Afrika, dan beberapa suku bangsa di Meksiko, Pulau Vanuatu di Pasifik Selatan, serta Australia berdasarkan temuan tulang tengkoraknya.

Adapun cara modifikasinya dimulai ketika seseorang baru dilahirkan. Bagian kepala bayi yang akan dilonjongkan diikat dengan dua buah papan kayu selama minimal enam bulan hingga bertahun-tahun hingga membentuk lonjok sempurna.

Mudun Lemah, Peringatan Tujuh Bulan Kelahiran Bayi

Bagi masyarakat Jawa, setiap tahap dalam siklus kehidupan manusia haruslah diupacarai. Adapun tujuannya adalah agar mendapat keselamatan. Salah satu dari upacara itu adalah mudun lemah bagi bayi yang menginjak usia tujuh bulan. Upacara yang ada pada masyarakat Surabaya ini di Jawa Tengah umum disebut sebagai tedak siten.

Sebagai sebuah upacara, Mudun lemah memerlukan seperangkat peralatan dan perlengkapan tertentu guna menunjang kelancarannya. Adapun perlengkapannya di antaranya adalah: bubur merah, tetel (sejenis ketan), jajanan pasar, gedang (pisang) rojo, gedang susu, kembang setaman, permainan anak (bola, mobil-mobilan), Al Quran, buku, pensil, dan pulpen.

Seluruh barang tadi akan ditaruh dalam nampan untuk selanjutnya akan diambil oleh anak yang diupacarai. Barang yang nantinya diambil oleh sang anak dianggap sebagai representasi dari masa depannya kelak. Milsanya, apabila yang diambil adalah tasbih, maka kelak dia akan rajin dalam beribadah.

Tradisi Rasulan di Gunungkidul

Di kalangan masyarakat Kalurahan Nglindur, Kapanewon Girisubo, Gunungkidul, Yogyakarta ada sebuah tradisi yang dinamakan sebagai rasulan. Tradisi yang biasanya dibarengai dengan buang sukerto ini merupakan sebuah bentuk ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa menjelang musim panen tiba serta membuang hal-hal negatif agar terhindar dari penyakit dan marabahaya.

Rasulan biasanya diadakan antara bulan April hingga Juli. Adapun prosesinya dimulai dengan memanjatkan doa yang dilakukan oleh sesepuh adat Dusun Nglindur. Sebelum doa di mulai, setiap makanan yang dibawa oleh warga masyarakat akan ditempatkan di atas meja. Selesai berdoa, makanan ini akan disantap secara bersama-sama. Sedangkan puncaknya adalah ziarah ke Petilasan Bondan Surati yang oleh masyarakat setempat dipercaya dapat mendatangkan berkah sekaligus sebagai penolak bala.

Tari Tidi Lo Polopalo

Tidi Lo Polopalo adalah sebuah tarian khas Gorontalo yang khusus dipertunjukkan pada saat ada upacara perkawinan. Tarian ini dilakukan oleh pengantin perempuan sebagai simbol seorang putri bangsawan yang tinggal di istana. Tari Tidi La Polopalo awalnya adalah tarian khusus bagi keluarga istana dan dipertunjukkan di lingkungan istana. Ia konon diciptakan oleh dua orang putri Raja Amai yang iri karena sang kakak (laki-laki) memiliki sayembara. Agar tidak dinomorduakan, mereka kemudian menciptakan sebuah tarian yang menggambarkan kehalusan budi pekerti, keramah tamahan, serta tanggung jawab rumah tangga kaum perempuan. Nama polopalo sendiri

Penyajian Tidi Lo Polopalo diawali dengan posisi penari dalam keadaan berdiri. Kemudian mereka akan melakukan gerakan-gerakan tertentu seperti memalingkan wajah ke kiri dan kekanan, mengayunkan tangan secara bergantian, memainkan polopalo (alat musik terbuat bambu atau pelepah daun rumbia), berjinjit, dan terakhir menunduk dengan badan sedikit menunduk sebagai tanda penghormatan.

Kediaman Pangeran Ami

Pangeran Ami mempunyai banyak nama, yaitu: Syamsudin (nama aslinya), Moh. Jakfar Sadik, dan Pangeran Suryo Amijoyo yang kemudian disingkat menjadi “Pangeran Ami”. Tempat kediamannya yang berada di Jln. Pujangga (Sumenep) merupakan salah satu bangunan kepangeranan yang ada di Kabupaten Sumenep. Pada masa hidupnya pernah menjabat sebagai sekretaris pribadi Panembahan Moh. Saleh Notokusumo II. Selain sebagai sekretaris, ia merangkap sebagai pujangga keraton, sehingga kediamannya dinamai “Kampung Pujangga”. Bangunan tersebut agak istimewa (terkesan artistik). Selain kediamannya yang unik dan artistik, Pangeran Ami dikenal memiliki keris yang bernama “Se Pangkat”. Keris tersebut diukir dengan tulisan VOC karena sangat berjasa. Dalam hal ini digunakan pada waktu Pangeran Diponegoro berperang melawan Belanda.

Rebana di Kabupaten Sumenep

Rebana adalah salah satu jenis kesenian yang ada di kalangan masyarakat Sumenep. Kesenian ini bernafaskan Islam. Ada beberapa nama yang berkenaan dengan kesenian ini, yaitu hadrah dan kratangan. Selaras dengan nafasnya yang Islami, maka kesenian ini berkembang bersamaan atau setelah agama Islam masuk ke tanah Madura. Kesenian ini pada awalnya ditampilkan untuk mengiri pembacaan salawat nabi (Nabi Muhammad SAW). Adapun kitab yang dibaca adalah Barzanji.

Sesuai dengan namanya, kesenian ini menggunakan alat musik yang disebut rebana (orang Pamekasan menyebutnya “terbang”). Dalam setiap penampilan jumlahnya 6—10 buah terbang. Sedangkan, vokalnya 8—12 orang. Mereka, baik pemusik maupun para vokalis, semuanya perempuan. Kesenian ini sering ditampilkan dalam upacara-upacara di lingkaran hidup individu, seperti: memperingati (selamatan) seorang balita yang genap berumur 40 hari dan perkawinan.

Jedor

Jedor adalah salah musik tradisonal orang Madura (Pamekasan). Seni-musik ini sering disebut juga sebagai tanjedor karena dalam musik tersebut ada sebuah alat.yang menyerupai bedug mesjid yang berukuran kecil (garis tengahnya kurang lebih 60 centimeter). Seperti halnya rebana, kesenian ini juga bernafaskan Islam (sering digunakan untuk mengiringi pembacaan berzanji dalam rangka salawat Nabi Muhammad SAW. Namun demikian, tidak sama persis dengan rebana karena dalam jedor selalu diselingi dengan pantun-pantun yang berisi nasehat dan hiburan. Pantun-pantum tersebut bukan berbahasa Arab, tetapi berbahasa setempat (Madura). Sebagaimana kesenian rebana, kesenian ini juga ditampilkan dalam rangka memeriahkan upacara di lingkaran hidup individu, khususnya pesta perkawinan.

Gerbang Lobang Mesem

Gerbang Lobang Mesem adalah bagian dari kompleks keraton Sumenep yang fungsinya sebagai pintu masuk utama keraton yang bersangkutan. Gerbang yang bangunannya sangat kokoh ini bentuk gawang pintunya menyerupai lubang (bagian atasnya melingkar).Gerbang ini dilengkapi dengan banguna bertingat tiga (semakin ke atas semakin kecil). Beberapa ciri-ciri yang ada pada gerbang tersebut menunjukkan bahwa gerbang tersebut ada unsur arsitektur Jawa (terlihat dari atapnya yang limas), Timur Tengah (bagian atas pintunya yang melengkung), dan Eropah (terlihat dari motif-motif ragam hiasnya). Gerbang tersebut, disamping merupakan pintu masuk utama, juga sebagai sifat orang Madura yang ramah. Hal itu disimbolan dari kata “mesem” (tersenyum ramah).

Hari Jadi Kabupaten Sumenep

Hari jadi Kabupaten Sumenep sangat erat kaitannya dengan Arya Wiraraja karena ia adalah adipati Sumenep yang pertama. Artinya, sebelumnya tidak ada penguasa lokal yang bergelar adipati. Ketika itu Sumenep berada di bawah kekuasaan Singosari. Raja Singosari (Raja Kertanegara) inilah yang kemudian melantik Arya Wiraraja sebagai Adipati Sumenep. Oleh karena itu, sumber-sumber (prasasti) yang berhubungan dengan raja tersebut dijadikan rujukan bagi penetapan Hari Jadi Kabupaten Sumenep. Prasasti-prasasti tersbur adalah: (1) Mua Manurung dari Raja Wisnuwardhana yang bertahun 1255 M; (2) Kranggan (Sengguruh) dari Raja Kertanegara yang bertahun 1356 M; (3) Pakiswetan dari Raja Kertanegara yang bertahun 1267 M; (4) Sarwadharma dari Raja Kertanegara yang bertahun 1269 M. Sedangkan, manuskrip yang digunakan untuk menelusuri lebih lanjut tentang Arya Wiraraja adalah: (1) Nagarakertagama karya Prapanca pada tahun 1365 M; (2) Pararaton yang ditulis ulang tahun 1631 M; (3) Kidung Harsa Wijaya, (4) Kidung Ranggalawe, (5) Kidung Pamancangah, (6) Kidung Panji Wijayakramah, dan (7) Kidung Sorandaka.


Dari prasasti-prasasti tersebut Prasasti Sarwadharma yang bertahun 1269 (lengkapnya 31 Oktober 1269) jelas menyebutkan bahwa saat itu Raja Kertanegara telah menjadi Raja Singosari yang berdaulat penuh dan berhak mengangkat seorang adipati. Prasasti ini berisi penetapan suatu daerah menjadi daerah suatantra (berhak mengurus dirinya sendiri) dan lepas dari pengawasan wilayah thani bala, sehingga daerah tersebut tidak lagi diwajibkan membayar berbagai macam pajak. Berdasarkan fakta tersebut maka pelantikan Arya Wiraraja ditetapkan tanggal 31 Oktober 1269 M. Peristiwa itu menjadi rujukan yang kuat untuk menetapkan hari jadi Kabupaten Sumenep.

Asta K. Pekke

K. Pekke adalah putera K. Hatib Bangil yang berasal dari Dusun Parongpong, Desa Kecer, Kecamatan Dasuk yang masih keturunan Mandaraga dan keturunan Pangeran Katandur yang dikenal sebagai cucu Sunan Kudus. Selain itu, K. Pekke adalah paman dan sekaligus guru Bendara Moh. Saud. Moh Saud itu sendiri adalah raja Sumenep yang memerintah dari tahun 1750—1762. Ia berasal dari Desa Lembung Barat, Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep.

K.Pekke dikenal sebagai ulama besar dalam ilmu fiqih (ahli hukum agama Islam). Ia adalah penerus pondok pesantren yang tertua di Kabupaten Sumenep. Selain itu, ia juga dikenal sebagai budayawan tertua setelah Wali Songo yang mengajarkan gending di Yogyakarta. Ketika wafat, ia dimakamkan di Desa Lembung Barat, Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep. Pemakamannya disebut “Asta K. Pekke”. Asta tersebut dari ibukota Sumenep jaraknya kurang lebih 11 kilometer ke arah barat.

Asta Jokotole

Jokotole adalah satu satu adipati Sumenep. Nama lain dari tokoh ini adalah Secodiningrat III. Konon, pada waktu sakit parah ia dibawa pulang dari Keraton Lapataman ke rumah puteranya yang berada di Desa Parsanga, Kecamatan Kota Sumenep. Sebelum wafat ia berwasiat bahwa jika katel (keranda jenazah) yang terbuat dari batang bambu patah (di mana saja), maka disitulah kuburnya. Ketika ia wafat dan jenazahnya hendak dimakamkan, katel-bambunya patah di Kecamatan Manding. Oleh karena itu, susuai dengan wasiatnya, ia mesti dikuburkan di situ. Namun, di daerah tersebut sulit untuk mendapatkan air. Padahal, jenazah sebelum dikubur mestikan disucikan (dimandikan). Untuk mengatasi hal itu, maka Raden Arya Begonondo (putera Jokotole) menancapkan tongkat milik ibunya (Dewi Ratnadi) ke dalam tanah, sebagaimana yang pernah dilakukan di Desa Socah (Kabupaten Bangkalan). Dan, yang terjadi adalah air keluar dari tanah tersebut, sehingga jenazah ayahnya dapat disucikan dan dikuburkan di desa itu. Oleh karena itu, tempat tersebut dinamakan “Saasa” yang artinya “tempat mensucikan”.

Lukisan Berumur 45.500 Tahun Ditemukan di Sulawesi

Lukisan berbentuk hewan berupa babi liar ditemukan ditemukan dalam sebuah gua di daerah perbukitan terpencil Sulawesi Selatan. Lukisan dengan ukuran sebenarnya itu dilukis dengan pigmen merah tua yang terbuat dari tanah liat.

Menurut Maxime Aubert yang dikutip bbc.com yang mengidentifikasi melalui endapat kalsit pada permukaan lukisan dan penanggalan isotop seri uranium diketahui bahwa umurnya sekitar 45.500 tahun.

Adapun bentuk lukisannya panjang sekitar `36 centimeter dan lebar 54 centimeter yang menggambarkan seekor babi liar berkelamin jantan dengan ciri berupa tonjolan menyerupai tanduk pada bagian wajahnya. Sementara di bagian atas punggung terdapat dua lukisan tangan.

Asal-Usul Nyai Nurima

(Cerita Rakyat Daerah Madura)

Raden Natapraja alias Pangeran Bukabu mempunyai tiga orang putera, yaitu: R. Andasmana alias K. Rawan, R. Astamana, dan Dewi Retna Sari. Astamana, setelah menikah, dikaruniai dua orang putera, yaitu K. Abdullah dan Ali Talang Parongpong. K. Ali Talang Parongpong mempunyai putera yang bernama K. Hatib Bangil Paorongpong. Sementara, K. Abdullah Modin Teja Bacorang Pamekasan mempunyai puteri yang bernama Dewi Salamah. Ia diperisteri oleh K. Hatib Bangil Parongpong. Dari hasil perkawinannya, mereka memperoleh tiga orang putera, yaitu: K. Fakih Lembung Barat, Nyai Galu, dan Nyai Nurima. Nyai Galu kawin dengan K. Jalaluddin yang masih keturunan Sunan Kudus. Sementara, Nyai Nurima kawin dengan R. Abdullah alias Bendara Bungsu. Dari hasil perkawinannya mereka memperoleh tiga orang putera. Salah satu diantaranya adalah Bendara Saud. Ini artinya, berdasarkan ceritera rakyat yang berkembang di kalangan masyarakat Sumenep, Nyai Nurima masih keturunan bangsawan.

Asal Usul Dewi Asri

(Cerita Rakyat Madura)

Konon, Adipati Sumenep yang pertama (Arya Wiraraja) berasal dari Desa Karang Nangka, Kecamatan Rubaru, Kabupeten Sumenep. Adipati tersebut akhirnya menyerahkan kekuasaannya kepada adiknya yang bernama Arya Bangah dengan gelar “Arya Wiraraja II”. Ia mempunyai putera yang bernama Arya Lembu Suranggana Danurwenda yang kemudian menggantikan ayahnya sebagai adipati Sumenep. Selanjutnya, Arya Lembu Suranggana Danurwenda menyerankan kekuasaannya kepada anaknya yang bernama Arya Asrapati. Pada masa pemerintahannya agama Islam mulai masuk ke Sumenep. Oleh karena itu, ia diganti oleh Panembahan Joharsari.

Panembahan Joharsari mempunyai putera yang bernama R. Pitutut alias Panembahan Mandaraga yang kemudian mewarisi kekuasaannya. Ia mempuyai seorang isteri yang bernama Nyai Ketel (dari Giri). Mereka dikarunia dua orang putera, yaitu R. Natapraja alias Pangeran Bukabu dan R. Nataningrat alias Pangeran Baragung. Keduanya juga pernah menjadi adipati Sumenep. Pangeran Baragung sendiri mempunyai putera yang bernama Endang Kilangen. Ia menikah dengan Bramakinda alias Tumenggung Gajah Pramada. Ketika menjadi adipati Sumenep ia bergelar Pangeran Secodiningrat I. Setelah itu, diganti oleh puteranya yaitu R. Agung Rawit yang bergelar Pangeran Secodiningrat II. Raden Agung Rawit menikah dengan Dewi Retno Sarini (Puteri dari Pangeran Bukabu). Dari hasil perkawinannya, mereka dikaruniai seorang puteri yang bernama Dewi Saini alias R.A. Potre Koneng. Pangeran Bukabu sendiri mempunyai tiga orang putera yaitu R. Andasmana alias K. Rawan, R. Astamana, dan Dewi Retna. R. Andasmana sendiri mempunyai putera bernama R. Kumbakara alias K. Sindir I. R. Kumbakara mempunyai putera yang bernama K. Abd. Rahem alias K. Sindir II. K. Sindir II beristrikan putri K. Gunung Glugur dari Kecamatan Batuan (Sumenep). Mereka mempunyai putera bernama K. Abdullah alias K. Sendir III. Sedangkan, K. an kawin dengan Nyai Susur (putri dari Pangeran Siding Puri alias R. Aryo Wibowo. Aryo Wibowo mempunyai tiga orang putri yang satu diantaranya kawin dengan Pangeran Wetan. Sementara, K. Sindir III mempunyai dua orang putra, yaitu K. Rahem alias K. Raba Pademawu Pamekasan dan Nyai Asri. Nyai Asri sendiri menikah dengan R. Pandiyan alias K. Abdul Kidam. Mereka mempunyai yang bernama K. Abdullah alias Bendara Bungsu. Dengan demikian, berdasarkan ceritera rakyat yang berkembang di kalangan orang Sumenep, Dewi Asri masih keturunan bangsawan Sumenep.

Kabupaten Sumenep

Sumenep adalah sebuah kabupaten yang secara administratif termasuk dalam wilayah Jawa Timur. Kabupaten yang secara astronomis terletak diantara 113°32¢54” -- 116°16¢48” BT dan 4°55¢--7°24¢ LS terdiri atas daratan dan kepulauan. Wilayah daratannya yang merupakan sebagian dari Pulau Madura luasnya mencapai 1.147,24 km persegi (57,40% dari luas kabupaten). Sedangkan, luas daerah kepuluannya mencapai 850,30 km persegi yang tersebar di 126 buah pulau (48 pulau berpenghuni, sedang 78 pulau belum berpenghuni). Kabupaten yang berpenduduk 1.956.984 jiwa dengan kepadatan 504,90 jiwa perkilometer ini sebelah utara berbatasan dengan laut Jawa; sebelah timur berbatasan dengan laut Jawa dan laut Flores; sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Pamekasan; dan sebelah selatan berbatasan dengan selat Madura. Kabupaten ini memiliki 27 kecamatan dan 328 desa.

Tahun 2006 Kabupaten Sumenep berhari jadi ke-737. Hari jadi tersebut mengacu pada pelantikan Arya Wiraraja sebagai Adipati Sumenep yang pertama. Artinya, sebelum itu belum ada penguasa lokal yang bergelar Adipati. Saat itu Kadipaten Sumenep berada dibawah kekuasaan Kerajaan Singosari (Raja Kertanegara). Prasasti yang dapat dijadikan sebagai rujukan adalah: (1) Mua Manurung dari Raja Wisnuwardhana yang bertahun 1255 M; (2) Kranggan (Sengguruh) dari Raja Kertanegara yang bertahun 1356 M; (3) Pakiswetan dari Raja Kertanegara yang bertahun 1267 M; (4) Sarwadharma dari Raja Kertanegara yang bertahun 1269 M. Sedangkan, manuskrip yang digunakan untuk menelusuri lebih lanjut tentang Arya Wiraraja adalah: (1) Nagarakertagama karya Prapanca pada tahun 1365 M; (2) Pararaton yang ditulis ulang tahun 1631 M; (3) Kidung Harsa Wijaya, (4) Kidung Ranggalawe, (5) Kidung Pamancangah, (6) Kidung Panji Wijayakramah, dan (7) Kidung Sorandaka. Berdasarkan fakta tersebut maka pelantikan Arya Wiraraja ditetapkan tanggal 31 Oktober 1269 M. Peristiwa itu menjadi rujukan yang kuat untuk menetapkan hari jadi Kabupaten Sumenep.

Letak dan keadaan geografis, latar belakang sejarah, dan agama (kepercayaan) yang dianut oleh sebagian penduduknya (95% Islam) pada gilirannya mewarnai budaya yang ditumbuh-kembangkan oleh masyarakat Sumenep. Hal itu tidak hanya tercermin dari sistem matapencahariannya yang sebagian besar sebagai petani dan nelayan, statifikasinya yang mengacu kepada budaya keraton, tetapi juga banyak unsur-unsur budayanya dipengaruhi oleh agama dan atau kepercayaan mereka. Sehubungan dengan latarbelakang tersebut, maka mayarakat Sumenep memiliki peninggalan sejarah yang dapat dijadikan sebagai obyek wisata, seperti: Keraton, Mesjid Agung, Asta Tinggi (makam Raja-raja Sumenep, Asta Sayid Yusuf, Asta Buju Panaongan, Asta Katandur, Asta Jokotole, dan Asta Anggoseto. Mereka juga memiliki berbagai tradisi yang berkenaan dengan kesenian, seperti: Hadrah, Klenengan, Saronen, Loddrok, dan Topeng Dalang. Selain itu, mereka memiliki permainan tradisional, seperti: Kerapan Sapi, Tan-Pangantanan, dan Ojhung. Mereka juga melangsungkan berbagai upacara adat, seperti: Nyadar, Petik Laut, Pelet Kandung, Sonnatan, Toron Tanah, Nyanyokor, dan Rateb.

Berbagai peninggalan sejarah itu pada umumnya terawat baik. Sedangkan, berbagai tradisi yang ada, baik yang menyangkut kesenian, permainan, dan upacara sebagaian masih lestari dan sebagian lagi hanya tinggal kenangan (musnah) tertelan zaman.

Benteng Sumenep

Benteng Sumenep atau Benteng Belanda dibangun pada tahun 1785. Benteng yang tinggi temboknya mencapai 3 meter ini berdiri di atas tanah seluas 15.000 meter pesrsegi (panjang 150 meter dan lebar 100 meter) dengan ketebalan tembok 5 meter. Benteng ini dilengkapi dengan asrama untuk 25—30 tentara. Mereka dibawah pimpinan seorang letnan. Di setiap sudut benteng (ada empat sudut) ada cannon-nya. Sebuah sumber Inggris menyebutkan bahwa dalam tahun 1811 benteng tersebut bentuknya dan lokasinya kurang strategis, sehingga dalam kenyataannya hanya digunakan sebagai gudang (tempat penyimpanan). Bangunan benteng itu sendiri terbuat dari bata . Ia mempunyai dua pintu masuk, yaitu di bagian utara dan selatan. Setiap pertahanan dihubungkan dengan pertahanan lainnya dengan tonjolan setebal 5 meter.

Dewasa ini segmen benteng yang masih tersisa adalah dua pintu gerbang, sebuah penjara, dan papan pengumuman. Oleh karena itu, fungsi benteng telah berubah menjadi areal proyek pengembangan petani ternak kecil. Dengan fungsinya yang baru ini maka di dalam dan di laurnya ada sejumlah bangunan kandang ternak dan rumah penjaga. Di luar benteng bagian barat ada sebuah tanah pekuburan Belanda yang sudah ada sejak tahun 1933.

Asal Mula Kata Sumenep

Salah satu tradisi lisan yang ada di kalangan masyarakat Sumenep adalah asal mula kata “Sumenep”. Kata tersebut berasal dari kata “Songennep”. Songennep itu sendiri sebenarnya istilah yang terdiri atas dua kata, yaitu “Song” dan “Ennep”. Song berarti: relung, geronggang, sejuk, rindang, payung, cekungan. Sedangkan, ennep berarti mengendap, tenang. Jadi, songennep berati lembah atau cekungan yang tenang.

Versi yang lain menyebutkan bahwa songennep berasal dari kata moso ngenap. Moso berarti “musuh”, sedangkan ngenep berarti “menginap”. Jadi, mosongenep berarti “musuh yang menginap”. Pendapat ini dikaitkan dengan Ke Lesap yang peenah menyerang keraton Sumenep dan pernah tinggal selama sebulan di sana. Versi yang lain lagi menyebutkan bahwa songennep berasal dari kata “ingsun ngenep” yang artinya “Saya bermalam”. Pendapat ini dikaitkan dengan Raden Wijaya yang pernah mengungsi ke Madura ketika dikejar-kejar oleh Jayakatwang.

Sampai saat ini masyarakat yang tinggal di sekitar pusat kabupaten (kota Sumenep) umumnya menggunakan kata “Sumenep” untuk menyebut daerahnya. Sementara, masyarakat yang tinggal di pedasaan umumnya menggunakan kata “Songennep”.

Adat Mapar di Madura

Mapar adalah suatu kegiatan merapikan (meratakan gigi). Kegiatan ini disamping bertujuan agar gigi tampak rapi dan menarik, tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah untuk membuang sangkal (kesialan). Oleh karena itu, seorang gadis yang akan memasuki jenjang perkawinan giginya di-mapar (diratakan). Mengingat bahwa kegiatan mapar ada unsur magisnya, maka upacaranya bersifat sakral. Upacara ini masih tetap dilakukan oleh masyarakat Desa Panagan, Kecamatan, Kabupaten Sumenep (kurang lebih 10 kilometer ke arah tenggara dari kota Sumenep).

Upacara mapar dilakukan di kediaman pengantin perempuan. Untuk itu, pihak pengantin perempuan mempersiapkan segala sesuatu yang berkenaan dengan upacara tersebut, terutama ahli mapar dan tiga orang yang bertugas sebagai pembaca kidung. Kidung diambilkan dari kitab kuno. Kitab tersebut berhuruf Jawa dan berisi hikayat tentang Nabi Yusuf, yaitu seorang nabi yang terkenal ketampanannya.

Proses mapar itu sendiri disertai (diiringi) dengan kidung. Maksudnya adalah agar calon mempelai yang dipapar terhibur sehingga mengurangi rasa sakit. Beberapa orang gadis yang mengikuti upacara tersebut membakar dhupa, kemudian mengitari mempelai yang sedang dipapar. Setelah perataan gigi selesai, maka acara dilanjutkan dengan membersihkan (mencukur) rambut-rambut halus yang di sekitar dahi dan tengkut mempelai. Kegiatan ini oleh masyarakat setempat disebut paras. Makna yang terkendung adalah pembuangan sial.

Upacara mapar diakhiri dengan kegiatan kirab menuju tapak dangdang.(simpang empat) yang ada di desa yang bersangkutan, atau menuju pantai dan membuang sisa-sisa potongan gigi dan rambut beserta sesaji di sana. Kirab itu sendiri diiringi/dimeriahkan dengan kesenian tradisional setempat, yaitu sronen.

Kerapan Sapi

Kerapan sapi sangat erat kaitannya dengan seprang penyebar agama Islam di daerah Madura, yaitu Syeh Ahmad Baidawi. Sambil menyebarkan agama, Beliau mengajarkan cara bercocok tanam (membalik tanah) dengan menggunakan sepasang bambu (Nanggala atau Salaga) yang ditarik oleh dua ekor sapi. Oleh karena itu, Beliau diberi gelar “Pangeran Katandur”. Kerapan sapi pada awalnya merupakan kegiatan untuk memperoleh sapi yang kuat. Lama-kelamaan kegiatan tersebut berkembang menjadi adu balap-sapi (kerapan sapi) sebagaimana yang ada di kalangan masyarakat Madura dewasa ini.

Kerapan sapi adalah salah satu jenis permainan tradisional masyarakat Madura. Ada beberapa persyaratan yang berkenaan dengan kondisi sapi, yaitu: (1) Sapi harus mempunyai jenis warna Madura (Madura asli); (2) Sapi harus sehat dan kuat; (3) Tinggi sapi harus mencapai 120 sentimeter; dan (4) Giginya sudah dicabut. Untuk membuat sapi sehat dan kuat diperlukan makanan yang “bergizi”, seperti: batang pohon jagung, kedelai, kacang, dan rumput yang baik. Selain itu, sapi-kerap juga diberi ramuan tradisional seperti: jahe, lada, cabe, madu, bir, dan puluhan bahkan ratusan telur.

Tiga atau empat hari sebelum pelaksanaan kerapan sapi tiba, pemilik sapi dan keluarganya mendatangi arena pertandingan dan mencari tempat yang dianggap baik untuk memarkir sapi-aduannya. Sebab, dalam kerapan sapi yang bertanding bukan semata-mata sapi, tetapi antarpemiliknya melalui kekuatan gaib. Siapa yang unggul kekuatan gaibnya dalam “melumpuhkan” sapi lawan, dialah yang akan memenangkan kerapan. Oleh karena itu, tidak jarang pemilik sapi berpuasa untuk mengalahkan tenaga gaib pemilik sapi lainnya.

Pelaksanaan Kerapan Sapi dibagi dalam empat babak. Babak pertama, seluruh pasangan sapi diadu keceptannya. Dalam babak ini baik sapi yang menang maupun kalah dapat bertanding lagi. Babak kedua, pasangan sapi pada kelompok menang akan dipertandingkan kembali; demikian juga pasangan sapi pada kelompok kalah. Pada babak ini baik semua pasangan sapi pada kelompok menang maupun kalah tidak boleh dipertandingkan lagi. Babak ketiga (semi final) adalah babak penentuan tiga pasang sapi pemenang dari kelompok pemenang dan tiga pasang sapi pemenang dari kelompok yang kalah. Babak kempat (final) adalah babak penentuan juara I,II, dan III, baik dari kelompok pemenang maupun kalah.

Kejuaraan Kerapan Sapi dilakukan secara bertingkat. Dimulai dari tingkat Pembantu Bupati, Kabupaten, dan terakhir tingkat karesidenan. Tingkat karesidenan (Final Besar) biasanya diadakan di Kota Pamekasan (Koordinator Kerja Wilayah VII Madura). Pada tingkat ini diikuti oleh 4 kabupaten yang ada di Madura (Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep). Setiap kabupaten mengirim 6 pasang sapi pemenang. Namun, sejak tahun 1998 Final Besar tidak lagi dipusatkan di Kota Pamekasan tetapi bergiliran. Kini Kerapan Sapi telah masuk dalam kalender nasional (acara tahunan) dengan pelaksanaan bulan Agustus—Oktober pada setiap tahunnya.

Sapi dalam kehidupan masyarakat Madura memiliki arti tersendiri. Ia tidak hanya sebagai alat bantu dalam bercocok tanah (membajak), tetapi juga alat transportasi, dan permainan tradisional. Oleh karena itu, berdasarkan penggunaannya ada beberapa istilah, antara lain: antara lain: sape-kerap (sapi yang digunakan untuk kerapan), sape-pajikaran (sapi yang digunakan untuk menarik pedati), dan pangorbi (sapi betina yang berperan sebagai induk). Pangorbi yang kualitasnya bagus dijadikan sebagai sape-pajhangan (lotrengan). Kualitas sapi yang bagus dapat dilihat dari bentuk tubuh, warna kulit, dan kesehatannya. Sapi ini dirawat dan dibuat sedemikian rupa (diberi aksesoris) sehingga menarik perhatian orang. Perawatan yang khas inilah yang kemudian membuahkan sebuah kegiatan (kontes) yang disebut sape-sono. Di Sumenep pemeliharaan sape-sono masih dapat ditemukan di daerah: Gading, Batu Putih, Bluto, dan Batang-Batang.

Kontes sape-sono biasanya dilakukan sebelum kerapan sapi (mengawali pelaksanaan kerapan sapi). Ketika kontes itu berlangsung, dua pasang sapi dilepas dari garis start menuju labhang sakheteng, yaitu semacam gapura yang diberi benda-benda yang dapat menakutkan sapi, seperti: cermin besar, orang-orangan, dan topeng. Menang dan kalahnya pasangan sapi yang mengikuti kontes bergantung pada penilaian juri berdasarkan: (1) Keanggunan sapi ketika berjalan dengan pasangannya (arah pandang ke depan dan lurus); (2) Keselarasan ketika berjalan (seirama dengan musik pengiring); dan (3) Ketepatan ketika berhenti di bawah gapura.

Masjid Agung Sumenep

Masjid Agung Sumenep dibangun pada masa pemerintahan Panembahan Sumolo. Pembangunannya memerlukan waktu sekitar 8 tahun, dimulai dari tahun 1779 dan selesai tahun 1787. Sejak berdiri hingga sekarang masjid tersebut tetap menjadi anutan dalam pengembangan syiar Islam di Kabupaten Sumenep. Masjid yang memiliki arsitektur yang indah dan khas (memiliki perpaduan antara gaya Islam, Eropa, dan Cina) ini merupakan salah satu dari sepuluh masjid tertua di Indonesia.

Diantara masjid dan keraton terdapat tanah lapang yang oleh masyarakat setempat disebut alon-alon. Makna simbolik dari keberadaan masjid yang ada di bagian barat alon-alon adalah Hablum Minallah (hubungan antara manusia dengan Sang Penciptanya). Sedangkan, makna simbolik dari keberadaan keraton yang di bagian timur alon-alon adalah Hablumminannas (hubungan antarmanusia). Ini artinya, jalinan hubungan yang harmonis antara ulama dan umaro sudah tercipta sejak masa lalu.

Archive